Keluarga Besar PTA Makassar Gelar Halal Bihalal Pererat Silaturahmi Dan Perkuat Semangat Pengabdian
Pengadilan Tinggi Agama (PTA) Makassar menggelar kegiatan Halal Bihalal Keluarga Besar PTA Makassar pada Selasa, 31 Maret 2026, bertempat di Aula PTA Makassar. Kegiatan yang sarat makna spiritual dan kekeluargaan ini diikuti oleh Ketua dan Wakil Ketua PTA Makassar, para Hakim Tinggi, pejabat struktural dan fungsional, serta seluruh aparatur PTA Makassar. Turut hadir pula Ketua dan Anggota Dharmayukti Karini (DyK) Cabang Sulawesi Selatan, Penasihat Ikatan Purnabakti Peradilan Agama (IPPA) Dr. H. Andi Syamsu Alam, S.H., M.H., Ketua IPPA Dr. Drs. H. Abu Hurairah, M.H., Ketua Ikatan Purnabakti PTA Makassar Dr. Hj. Ummi Salam, M.H., serta para purnabakti Peradilan Agama. Suasana aula dipenuhi kehangatan kekeluargaan yang mencerminkan eratnya hubungan antargenerasi insan peradilan agama.

Acara dibuka dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh Dr. Muh. Ilyas, S.H., M.H., Hakim Pengadilan Agama Maros, yang memohon keberkahan dan ridha Allah Swt., atas terselenggaranya silaturahmi agung tersebut.

Ketua Pengadilan Tinggi Agama Makassar, Dr. Drs. H. Khaeril R., M.H., dalam sambutannya menyampaikan bahwa pelaksanaan Halal Bihalal ini merupakan amanah yang diemban dari orang tua dan sesepuh institusi, H. Andi Syamsu Alam. Beliau menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan sebuah momentum untuk bersegera meraih ampunan Allah Swt., sekaligus menunaikan kewajiban yang bersifat personal antarsesama. "Kita tidak mungkin mendatangi satu persatu saudara kita. Maka forum inilah kesempatan kita untuk saling memaafkan, karena boleh jadi dalam keseharian kita, ada tutur kata dan perbuatan yang tanpa disadari menyinggung perasaan orang-orang di sekitar kita," ujar KPTA Makassar.
KPTA Makassar turut memaparkan sekilas latar sejarah tradisi Halal Bihalal yang lahir pada era Presiden Soekarno sebagai sarana menyatukan para tokoh bangsa yang berseberangan pandangan. Kini, tradisi tersebut terus dilestarikan sebagai wadah mempererat tali silaturahmi dan memperkokoh persatuan di lingkungan keluarga besar peradilan agama. Salah satu pesan yang paling menggetarkan dalam sambutan KPTA adalah seruan untuk terus mengkader generasi penerus. KPTA menekankan bahwa kemajuan maupun kemunduran institusi bergantung pada sikap dan perilaku sivitas itu sendiri. "Siapa yang merusaknya, kita sendiri. Dan siapa yang mempersiapkan diri meraih kesempatan itu, dialah yang berhasil," katanya.

Menutup sambutannya, KPTA Makassar menyampaikan pesan dari tokoh senior, Pak Manan, bahwa Peradilan Agama tidak pernah berhenti berjuang untuk hal-hal yang bersifat positif demi kejayaan institusi dan kemaslahatan umat.
Usai sambutan KPTA Makassar, acara dilanjutkan dengan penyampaian Hikmah Halal Bihalal oleh Drs. H. Kamaluddin Hasyim, M.H., purnabakti peradilan agama, yang menyajikan untaian hikmah mendalam tentang dua tema pokok yaitu kesucian hati dan makna silaturahmi yang hakiki.

Kamaluddin membuka tausiyahnya dengan perenungan tentang nikmat kesehatan. Menurutnya, kesehatan adalah mahkota yang tak tampak nilainya kecuali oleh mereka yang sedang dirundung sakit. "Semua penyakit ada obatnya, kecuali ketuaan dan bertambahnya umur," tuturnya, mengingatkan hadirin untuk senantiasa bersyukur atas setiap nikmat yang masih dimiliki.
Memasuki inti ceramah, Kamaluddin menyinggung sabda Rasulullah saw., tentang segumpal daging di dalam tubuh manusia yaitu hati yang menjadi pengontrol seluruh pola pikir dan tingkah laku seseorang. Apabila hati itu baik, baiklah seluruh perilaku manusia, namun apabila hati itu rusak, rusaklah segala-galanya. "Orang yang bisa bersilaturahmi dengan tulus adalah mereka yang hatinya suci. Orang yang hatinya bersih adalah orang yang paling sukses di dunia, karena kelak ia akan meninggal dalam keadaan husnul khatimah," tegasnya. Kamaluddin menyentil fenomena yang kerap terjadi dalam praktik ibadah, yakni kebiasaan menggantungkan kualitas ibadah pada bilangan dan angka semata, bukan pada kehadiran hati. "Masalah kita adalah karena diburu oleh angka. Setiap ibadah yang digantungkan pada bilangan akan menyiksa diri sendiri," ujarnya.
Ia menganjurkan agar hadirin membiasakan diri berdzikir dan bertasbih dengan hati yang ikhlas, karena kalimat tayyibah tidak akan terucap dengan benar jika tidak dibiasakan dari lubuk hati yang paling dalam. Kamaluddin juga menegaskan bahwa suatu perbuatan baru dapat disebut benar-benar baik apabila memenuhi tiga syarat sekaligus, yakni: niat yang baik, cara yang baik, dan tujuan yang baik. Ia mengingatkan bahwa perbuatan kecil sekalipun bisa bernilai besar di sisi Allah Swt., apabila dilakukan dengan hati yang bersih dan ikhlas. "Jangan pernah memandang enteng kebaikan sekecil apapun," pesannya.
Di penghujung tausiyahnya, Kamaluddin meluruskan pemahaman tentang silaturahmi yang selama ini kerap disederhanakan sebagai sekadar saling berkunjung. Menurutnya, silaturahmi yang hakiki adalah menyambung kembali hubungan yang telah putus dan justru di situlah letak keutamaan yang sesungguhnya. "Memberikan maaf itu lebih berat daripada meminta maaf. Namun itulah yang paling mulia di sisi Allah," tuturnya. Ia mengaitkan momentum Halal Bihalal sebagai perwujudan dimensi sosial Islam, yaitu Hablum minannas, setelah sepanjang Ramadan kita memfokuskan diri pada Hablum minallah, kini saatnya kita mensucikan hati dan menjalin kembali hubungan sesama manusia. "Biasakanlah selalu berbuat baik. Dan silaturahmi yang benar adalah membangun kembali jembatan yang telah retak, bukan sekadar mengunjungi yang sudah dekat," pungkasnya mengakhiri tausiyah dengan pesan yang menggugah hati seluruh hadirin.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan Halal Bihalal, acara diakhiri dengan pembacaan doa bersama yang dipimpin oleh Jamaluddin, S.E., memohon kepada Allah Swt., agar seluruh keluarga besar PTA Makassar senantiasa diberikan kesehatan, keberkahan, dan keistiqomahan dalam menjalankan amanah sebagai insan peradilan agama.

Kegiatan Halal Bihalal Keluarga Besar PTA Makassar ini berlangsung dengan penuh khidmat dan kekeluargaan.
