PTA Makassar Beri Pesan Spiritual Tentang Amal Saleh Dan Salam Pada Pembinaan Mental
Pengadilan Tinggi Agama (PTA) Makassar menggelar kegiatan pembinaan mental bagi seluruh aparaturnya, Senin (19/1/2026), di Aula PTA Makassar. Pembinaan ini dipimpin langsung oleh Ketua PTA Makassar Dr. Drs. H. Khaeril R., M.H., didampingi Wakil Ketua dan Sekretaris PTA Makassar. Diikuti oleh para hakim tinggi, pejabat struktural dan fungsional Kepaniteraan dan Kesekretariatan, serta seluruh aparatur PTA Makassar. Acara ini menjadi bagian dari komitmen institusi untuk membangun budaya kerja yang berakhlak mulia dan sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Pembinaan mental disampaikan oleh Hakim Tinggi Drs. H. Hasbi, M.H., menyampaikan tentang pesan spiritual tentang amal saleh dan salam. Dalam materinya, Hakim Tinggi Drs. H. Hasbi, M.H., menekankan pentingnya melaksanakan amal-amal kebaikan dengan tulus ikhlas. Ia mengutip hadis yang menjelaskan bahwa amal yang dilakukan dengan konsisten akan mendapat kemudahan dari Allah Swt., termasuk berkesempatan memasuki surga melalui pintu mana pun.
Hasbi menyoroti pesan hadis "tebarkanlah salam" yang mengandung makna mendalam bagi hubungan antarmanusia. Beliau menjelaskan bahwa mengucapkan salam bukan sekadar formalitas, melainkan komitmen untuk tidak melukai perasaan orang lain melalui ucapan. Sering kali, kata-kata yang tidak disadari dapat menyebabkan kekecewaan bagi yang mendengarkan. Lebih lanjut, Hasbi mengaitkan pesan tersebut dengan keharusan saling berbagi dengan sesama. Beliau mengingatkan bahwa memberikan makan kepada mereka yang membutuhkan merupakan salah satu amal yang akan membuka pintu surga. Praktik sederhana seperti tidak membiarkan tamu pergi tanpa diberikan sesuatu mencerminkan karakter mulia seorang Muslim.
Pembinaan dilanjutkan dengan menyampaikan kisah Abu Hasyim, seorang ulama yang dikenal rajin beribadah kepada Allah Swt. Dalam kisah tersebut, Abu Hasyim bertemu dengan seorang malaikat yang membawa buku berisi nama-nama orang yang dicintai Allah Swt. Meskipun Abu Hasyim sangat giat beribadah, namanya tidak tertera dalam buku tersebut. Ketika Abu Hasyim bertanya mengapa demikian, malaikat menjawab bahwa Allah melarang namanya dicantumkan. Alasannya, Abu Hasyim tidak peduli dengan keadaan sekitarnya, terutama tetangganya yang sedang kesusahan. Pesan moral dari kisah ini sangat jelas: ibadah yang sempurna harus diimbangi dengan kepedulian terhadap sesama manusia.

Ketua PTA Makassar Dr. Drs. H. Khaeril R., M.H., menguatkan pesan yang disampaikan oleh Hakim Tinggi Hasbi. Beliau menekankan bahwa dengan menerapkan salam sejati dalam setiap interaksi, aparatur peradilan akan bebas untuk memasuki surga melalui pintu mana pun. Dr. H. Khaeril juga menekankan bahwa setiap kebaikan yang dilakukan, termasuk pembinaan mental ini, akan dicatat oleh malaikat. Para peserta pembinaan akan didoakan agar diampuni dosanya, begitu pula dengan penyampai pembinaan.
Ketua PTA juga mengharapkan agar pengawasan yang dilaksanakan oleh PTA Makassar pada tahun ini dapat memberikan dampak positif yang nyata. Setiap temuan dari proses pengawasan diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi dan perbaikan menuju hal-hal yang lebih baik di masa depan. Beliau menekankan bahwa semua lini pekerjaan harus memiliki mekanisme evaluasi sebagai bentuk kontrol internal yang sehat.
Memasuki tahun 2026, PTA Makassar memiliki beberapa agenda penting. Di antaranya ialah pelaksanaan acara wisuda purnabakti untuk Wakil Ketua dan dua orang hakim tinggi PTA Makassar, sekaligus akan diselenggarakan rapat koordinasi bersama seluruh satuan kerja di wilayah Sulawesi Selatan. Ketua PTA menyampaikan aspirasi ambisius untuk meningkatkan kinerja semua lembaga peradilan agama di wilayah tersebut. Beliau menginginkan agar 23 satuan kerja di wilayah Sulawesi Selatan dapat mencapai prestasi tingkat nasional. Pencapaian ini memerlukan sinergi yang kuat, komitmen bersama, dan dedikasi dari seluruh aparatur peradilan di Sulawesi Selatan.
Pembinaan mental ini mencerminkan komitmen PTA Makassar dalam membangun institusi peradilan yang tidak hanya profesional, tetapi juga berakhlak mulia.
